31 October 2008

AMANAH...

Pekan yang berat... Deadline silih berganti, BAB I belum final, harus pontang-panting cari referensi baru, belum lagi data penunjang yang harus dicari ke Bareskrim Mabes Polri. Sampai-sampai keluarga dirumah tak banyak disapa, sahabat terbaik banyak terabaikan.. Namun disela-sela waktu tersisa, satu halaman buku terbuka. Ada pesan Rasulullah saw yang sangat menarik untuk kita simak bersama. Pesan itu tentang menjaga amanah. Satu hal yang sering terlewatkan. Ini penting!!! Terutama untuk sahabat-sahabat yang tenggelam dalam kesibukan, entah sekedar ingin mengejar dunia atau hanya ditujukan untuk akhirat. Atau yang berlaku adil, mengejar keduanya...

Bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Empat perkara yang harus dimiliki oleh seseorang maka engkau tidak akan kehilangan dunia seisinya: menjaga amanah, jujur dalam berbicara, berbudi pekerti, dan senantiasa menjaga kesucian” (H.R. Ahmad/6365).

Dasyatnya pesan Rasulullah saw. Beliau menyampaikan perihal empat perkara yang harus senantiasa kita jaga supaya dunia dan seisinya tidak menjauh dari kita. Barangsiapa memiliki keempat perkara tersebut, Insya Allah ia telah menggenggam dunia berikut isinya.

Kemudian dalam kesempatan lainnya, Rasulullah saw juga bersabda,
“Enam perkara yang dapat menjamin kalian masuk surga: jujurlah jika berbicara, tepatilah jika berjanji, laksanakanlah (amanah) jika kalian dipercaya, peliharalah kealuanmy, jagalah pandanganmu, dan tahanlah tanganmu”. (H.R. Ahmad: V/323)

Jika kita mampu mengamalkan enam pesan yang terdapat dalam hadits tersebut, Rasulullah menjamin sebuah tempat di surga.

Sahabat..
Amanah secara umum berarti bertanggungjawab terhadap apa yang dibawanya, menepati janji, melaksanakan perintah, menunaikan keadilan, memberikan hukum yang sesuai dan dapat menjalankan sesuatu yang telah disepakati.

Semoga ditengah aktivitas yang kita lakukan, kita bisa menjaga amanah yang dipercayakan kepada kita. Dan semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk itu...

Amin...

28 October 2008

Orang mukmin itu segalanya serba baik..

Salah seorang sahabat saya dihadapkan pada masalah yang sulit ia pecahkan. Ini mengenai pilihan hidup yang punya implikasi luas di masa yang akan datang. Alhamdulillah pagi ini ketika shalat subuh saya mendengar beberapa kalam ilahi yang sungguh menyejukkan hati. Selepas itu ada sebuah hadist yang membuat saya terhenyak dan bersyukur, bahwa

Shuhaib r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Sungguh menyenangkan orang mukmin itu! Segalanya serba baik, dan yang begitu itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika dia mendapat kesenangan dia bersyukur, dan jika dia mendapat kesengsaraan dia bersabar, sehingga apa yang dihadapinya selalu mendatangkan kebaikan baginya”.
(H.R. Muslim no.2092)

Syukur dan sabar memiliki keterkaitan layaknya nikmat dan cobaan. Setiap orang tidak dapat terlepas dari nikmat dan cobaan dalam mengarungi samudra kehidupan. Apabila diberi pilihan antara yang sulit dengan yang mudah, maka fitrah manusia untuk memilih kemudahan. Namun seringkali kesulitan justru datang tanpa bisa terelakkan.

Rasulullah saw sendiri demikian getir kehidupannya. Beliau telah yatim sebelum lahir dan kehilangan ibunya pada masa kanak-kanak. Beliau pernah mengikat perutnya dan mengganjalnya dengan batu karena lapar. Kedua tumitnya pernah berdarah, gigi serinya dirontokkan dan mengalami kekalahan dalam sebagian peperangan. Beliau sering mendengar cacian dengan kedua telinganya dan melihat berbagai tipu muslihat yang ditujukan kepada dirinya. Namun serangkaian peristiwa itulah yang membuat beliau terlatih dalam menghadapi situasi sulit.

Berikut beberapa hal yang dapat diperhatikan dalam menghadapi berbagai kesulitan,
Pertama, ingatlah Allah sebagaimana firman-Nya,
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku”. (al-Baqarah: 152)

Ini merupakan salah satu kelebihan kaum muslimin dimana Allah Azza wa Jalla menjamin akan mengingat dan mengangkat derajat orang yang senantiasa ingat kepada-Nya. Sesungguhnya jika Allah telah mengingat hamba-Nya, maka Dia mengingat mereka di alam yang besar ini dengan karunia, kemuliaan, kasih sayang, dan kemurahan-Nya. Dengan bantuan-Nya, Insya Allah kesulitan itu akan terasa jauh lebih mudah.

Kedua, mohonlah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat, sebagaimana firman-Nya,
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”.
(al-Baqarah: 153)

Sabar disebutkan berulang-ulang kali dalam al-Qur’an. Hal ini dikarenakan Allah mengetahui bahwa setiap aktivitas menuntut kesabaran. Kesabaran inilah kunci meraih kesuksesan. Namun ketika usaha dirasakan sedemikian sulit, fitnah dan tipu daya begitu keras menampar, panjangnya jalan menumbuhkan keraguan, maka kadang-kadang kesabaran menjadi lemah. Karena itu kesabaran diiringi dengan shalat. Karena shalat merupakan sarana pertolongan Allah yang tidak akan hilang. Shalat merupakan bekal yang tidak akan habis. Dengan shalat, kesabaran akan muncul kembali tanpa putus, malah bertambah semakin tebal dan teguh. Dan ketika ini terjadi, ingatlah sahabatku bahwa Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar.

Ketiga, yakini firman-Nya,

Ÿ"Allah tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (al-Baqarah: 286)

Bahwa Allah swt yang Maha Mengetahui, pasti memahami tingkatan hamba-hambanya. Tidak mungkin Ia membebani kita dengan beban diluar kesanggupan. Yakin bahwa beban tersebut pasti sesuai dengan kadar kesanggupan kita, karenanya Insya Allah badai kehidupan akan berlalu.

Sungguh, orang yang tenang dan mudah dalam menghadapi kesulitan tentunya harus punya jam terbang berkubang dengan kesulitan itu sendiri. Maka, jadikan kesulitan sebagai tangga untuk melatih diri meningkatkan kualitas hidup. Jadikan kesulitan sebagai kepompong kehidupan yang menjadikan kita pribadi-pribadi yang lebih indah. Dan jadikan diri kita pemenang dengan menaklukkan kesulitan yang terbentang. Ingat! Orang mukmin itu segalanya serba baik...

Semoga tulisan sederhana ini dapat menguatkan keyakinanmu akan pertolongan-Nya sehingga kesulitan yang sedang dihadapi terasa lebih ringan.

Wallahu A’lam.

25 October 2008

HARTA SHADAQAH DI MASA KHALIFAH UMAR

Di dalam kitab ath-Thabaqât, Ibn Sa’ad menceritakan penggalan kisah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

Pada suatu kali, aku pernah datang dari Abu Musa al-Asy’ari dengan membawa harta shadaqah (zakat) sebesar 800.000 dirham. Umar menerimanya dan berkata,
“Apa gerangan yang engkau bawa?”
Aku menjawab, “Aku membawa 800.000 dirham dari Abu Musa al-Asy’ari.”
Umar balik bertanya, “Apakah engkau gembira?”
Aku menjawab lagi, “Tentu, aku amat gembira.”
Setelah diserahkan kepada Umar, beliau tidak dapat tidur semalaman. Lalu istrinya bertanya, “Mengapa engkau tidak bisa tidur semalaman?”
Umar menjawab, “Bagaimana aku bisa tidur, sementara telah datang kepadaku harta shadaqah (zakat) sebanyak itu? Sungguh, aku tidak dapat tidur sampai aku membagikannya kepada kaum Muslimin.”

(Ibn Sa’ad, ath-Thabaqât, jilid III/216).

Saat tulisan ini dibuat, data dari geraidinar.com menunjukkan bahwa harga jual 1 dirham sama dengan Rp.29.884,-. Jika ada 800.000 dirham berarti nilainya mencapai Rp.23.907.200.000,- (dua puluh tiga milyar sembilan ratus tujuh juta dua ratus ribu rupiah). Subhanallah... angka yang sangat fantastik! Jika itu terjadi sekarang (Insya Allah), maka banyak sektor riil yang dapat digerakkan. Dengan demikian, berkahnya bisa nyenggol kemana-mana.

Semoga kutipan kisah tersebut dapat menjadi motivasi dan teladan bagaimana seharusnya bersikap terhadap harta yang diamanahkan-Nya. Bahwa sejatinya harta ini hanya milik Allah Azza wa Jalla. Kita hanya diberi amanah untuk menggunakan secukupnya lalu mendistribusikannya.

Wallahu A’lam.

20 October 2008

Make Your Life Worthy...

Menyambut pagi yang menakjubkan, berikut sepenggal kisah yang dapat direnungankan. Semoga dapat menjadikan kita, pribadi-pribadi yang lebih bermanfaat...

Al-kisah, seusai shalat subuh, Rasulullah saw mengajukan beberapa pertanyaan kepada jamaahnya,
“Apakah ada diantara kalian yang berpuasa hari ini?”
Umar bin Khatthab menjawab, ”Wahai Rasulullah saw, aku belum berniat puasa, maka pagi ini aku tidak berpuasa”.
Kemudian Abu Bakar menjawab, ”Ya Rasulullah saw, semalam aku telah berniat puasa, maka hari ini aku pun berpuasa”.

Rasulullah saw kemudian bertanya,
”Apakah ada diantara kalian yang telah menjenguk orang sakit?”
”Wahai Rasulullah saw, kita baru saja selesai shalat subuh dan belum beranjak, bagaimana kita bisa menjenguk orang sakit?”
, jawaban salah seorang jamaah.
”Ya Rasulullah saw, telah sampai berita kepadaku bahwa saudara Abdurrahman bin Auf sedang sakit, maka ku sempatkan diri berkunjung ke rumahnya sebelum menuju masjid”, jawab Abu Bakar.

Rasulullah saw kembali bertanya,
”Apakah ada diantara kalian yang telah bersedekah hari ini?”
”Ya Rasulullah saw, tadi ketika aku hendak masuk ke dalam masjid, tiba-tiba ada peminta-minta menengadahkan tangannya, maka kuberikan kepadanya potongan roti yang kudapatkan dari tangan Abdurrahman”,
jawaban Abu Bakar untuk kali ketiga.

”Engkaulah yang kuberi kabar gembira dengan surga”, jelas Rasulullah saw kepada Abu Bakar As-Shiddiq.

Kutipan kisah tersebut menggambarkan kesungguhan Abu Bakar As-Shiddiq dalam melakukan kebaikan. Beliau merupakan salah satu sahabat Rasulullah saw yang dijanjikan dengan surga karena senantiasa memelihara kehormatan dan harga dirinya serta memiliki akhlak yang mulia. Beliau peka terhadap keadaan sekitar dan sangat sedih apabila ada kesempatan beramal yang terlewati.

Mari tanyakan pada diri kita, apa saja yang sudah dikerjakan hari ini sejak bangun pagi hingga tidur nanti? Apakah kita sudah membantu meringankan beban orang lain? Apakah kita sudah menjadikan diri kita bermanfaat untuk orang lain? Sungguh, keberuntungan tidak diukur dari apa yang kita dapatkan, melainkan dari nilai manfaat yang bisa kita berikan sehingga menjadikan hidup kita berguna untuk orang banyak.

18 October 2008

Hidup Harus Bermanfaat!!!

Hidup harus bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Untuk itu setiap pribadi harus dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Itulah prinsip hidup yang saya pegang teguh untuk bisa survive dalam kehidupan yang menakjubkan. Mengapresiasi setiap sikap positif yang datang, tak terlalu peduli terhadap sikap negatif yang ada.

Namun dalam perjalanan hidup seringkali terlalu lemah dalam menghadapi tantangan, terlalu cepat untuk mengatakan tidak bisa terhadap suatu hal yang tidak disenangi, terlalu subyektif dalam memutuskan sesuatu, terlalu permisif terhadap kesalahan-kesalahan yang dibuat sendiri. Karenanya hidup tak selalu menyenangkan.

Tapi itulah hidup, kadang di atas, kadang terpaksa di bawah. Kadang terbang bebas, kadang harus mendarat sejenak untuk beristirahat. Kadang berlayar lepas, kadang tetap harus merapat untuk menyiapkan perbekalan. Yang terpenting adalah kita tetap bisa tersenyum meskipun bumi tempat kita berpijak terasa amat melelahkan. Karena senyum itu membahagiakan, menyenangkan, dan mampu mencairkan permusuhan.

Bunga Bank = Riba?

Analisis terhadap Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No.1 Tahun 2004 Tentang Bunga.


Definisi riba menurut ulama fiqh adalah kelebihan atau penambahan harta dalam suatu muamalah dengan tidak ada imbalan dari yang berpiutang. Maksudnya, pihak yang berhutang harus memberikan tambahan atas modal yang dipinjam akibat suatu transaksi utang-piutang ketika hutang telah jatuh tempo. Praktek seperti ini disebut riba nasi’ah.

Bunga merupakan tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang yang diperhitungkan dari pokok pinjaman tanpa memperhitungkan pemanfaatannya. Bunga diperhitungkan secara pasti di muka yang pada umumnya berdasarkan persentase tertentu serta dalam jangka waktu tertentu.

Menurut pandangan MUI, praktek pembungaan uang yang saat ini dijalankan oleh bank-bank konvensional ternyata telah memenuhi kriteria riba, bahkan lebih buruk daripada riba yang dahulu terjadi di zaman Rasulullah SAW. Dalam praktek yang dahulu terjadi, tambahan baru dikenakan saat orang yang berhutang tidak mampu mengembalikan pinjaman saat jatuh temponya. Sedangkan dalam sistem pembungaan sekarang, tambahan sudah langsung dikenakan sejak terjadi transaksi. Oleh karena itu, MUI melalui Fatwa No.1 Tahun 2004 Tentang Bunga menyatakan bahwa praktek pembungaan uang yang saat ini berlangsung termasuk sebagai riba, dan riba itu sendiri diharamkan hukumnya.

Perlu juga diperhatikan pendapat dari Muhammad Abu Zahrah dalam Buhuts fi al-Riba dan Yusuf al-Qardhawi dalam Fawa’id al-Banuk yang menyatakan bahwa bunga yang berlaku di bank-bank dan dipraktekkan oleh masyarakat tidak diragukan lagi keharamannya. Tentang keharaman bunga bank ini juga telah disepakati dalam berbagai Forum Ulama Internasional, antara lain dalam Majma’ul Buhuts al-Islamiyah di Al-Azhar Mesir pada Mei 1965; Majma’ al-Fiqh al-Islamy negara-negara OKI di Jeddah pada Desember 1985; dan Majma’ Fiqh Rabithah al-‘Alam al-Islamy di Mekkah pada tahun 1985. (Pertimbangan Fatwa MUI No.1 Tahun 2004).

Islam sendiri sangat keras melarang riba. Hal ini terkait dengan dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan praktek riba tersebut. Bahkan Islam menganggap bahwa dosa riba lebih besar daripada perzinahan, sebuah jinayah hudud yang diancam dengan hukuman rajam ataupun dera (Sa’id Hawwa, Al-Islam). Dalam sebuah riwayat disebutkan,

“Satu dirham riba yang dimakan seseorang dan dia tahu (hukumnya)adalah lebih buruk daripada tiga puluh enam kali zina”

Kemudian dari Abu Hurairah ra diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Hindarilah tujuh dosa besar yang mencelakakan! Kepada Rasulullah ditanyakan: Apa apa dosa-dosa besar yang dimaksud wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Menyekutukan Allah, melakukan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk membunuhnya tanpa alasan yang benar, makan harta anak yatim, makan riba, lari dari medan pertempuran, dan mencemarkan nama baik wanita mukmin yang lengah”. (H.R. Muslim).

Allah SWT dengan jelas mengharamkan praktek ribawi, sebagaimana firman-Nya:

“Orang-orang yang memakan riba tidak akan dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena (penyakit) gila. Keadaan yang demikian itu karena mereka berkatabahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...” (Q.S. al-Baqarah (2): 275).