Inna Lillahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun. “Sesungguhnya kita ini adalah milik Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya”.
Wallahu ‘alam...
Inna Lillahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun. “Sesungguhnya kita ini adalah milik Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya”.
Wallahu ‘alam...
Dalam kehidupan masyarakat yang beragam cara pandangnya, ada sebagian orang yang menganggap harta sebagai yang paling berharga baginya. Ada juga orang yang menganggap keluarga, penghargaan, pangkat atau jabatan sebagai yang paling berharga dalam hidupnya. Karena hal-hal tersebut dianggap paling berharga, maka orang yang bersangkutan akan berusaha menjaganya dengan segenap daya upaya.
Namun sadarkah kita bahwa ada yang lebih berharga dari itu semua. Sebagai seorang Muslim tentunya iman keislaman adalah yang utama. Berikutnya, yang terpenting namun paling sering diabaikan adalah waktu.
Waktu merupakan amanah yang harus dijaga dengan kesungguhan. Karena waktu akan senantiasa berjalan, tanpa bisa dihentikan, tanpa bisa dikendalikan ataupun dikembalikan. Waktu bagaikan pedang bermata dua. Apabila kita dapat bersahabat dan memanfaatkannya, maka berbagai kebaikan akan kita dapatkan. Namun sebaliknya, apabila kita melewatkan dan menjadikannya sia-sia, maka tidak akan pernah ada buah yang bisa kita petik sebagai hasilnya.
Setiap orang punya jatah waktu yang sama, yakni 24 jam dalam sehari. Diantara mereka, ada orang yang sukses dan ada pula yang gagal. Ada yang pandai dan ada yang bodoh. Ada yang mampu membuat berbagai macam kerajinan, mendirikan dan membangun perusahaan, bahkan memimpin sebuah negara. Namun tidak sedikit orang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Ada yang mampu tahfidz Al-Qur’an dan mempersiapkan diri menjadi ahli surga, namun banyak juga yang justru menjadi calon ahli neraka. Aneh, jika mengingat modal waktu yang mereka miliki sama banyaknya. Selain itu, mereka juga berpijak diatas bumi yang sama. Tapi inilah realitas yang ada.
Karena itu, tinggi-rendah derajat seseorang dapat juga dilihat dari bagaimana dia memberdayakan waktu. Individu yang unggul pasti orang yang paling efektif memanfaatkan waktu. Setiap detik, menit, jam dan hari-hari yang dilaluinya diisi dengan etos kerja dan aktualisasi diri.
Ingat bahwa setiap waktu punya beban persoalan sendiri, maka jangan pernah menunda pekerjaan. Mengenai hal ini, Rasulullah saw pernah bersabda, “Carilah lima perkara sebelum datang lima perkara, yaitu manfaatkanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu, gunakan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, gunakan masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, gunakan masa hidup sebelum datang kematianmu, gunakan masa senggangmu sebelum datang masa sempitmu” (al-Hadits).
Sahabat, hidup hanya sekali, dan bisa jadi hanya sebentar karena kita belum tentu berumur panjang. Dalam era globalisasi di segala bidang seperti sekarang ini, kebutuhan kita semakin hari semakin meningkat. Tentunya, semua tidak akan terpenuhi kecuali kita mampu memanfaatkan setiap detik yang kita miliki demi memacu peningkatan kualitas dan kompetensi diri. Oleh karenanya, satu-satunya pilihan dalam hidup ini adalah hari ini harus lebih baik dari kemarin!
Tidak mudah bersikap istiqamah dalam kebaikan. Terlebih lagi ditengah kesibukan menjaga beberapa amanah yang dipercayakan kepada kita. Harus ada skala prioritas sehingga kita dapat memaksimalkan potensi yang ada untuk kemaslahatan sebanyak-banyaknya orang.
Sekalipun sudah berbuat maksimal, sulit rasanya membuat semua orang menyukai tindakan kita. Tidak usah heran, apalagi kecewa. Terus saja berbuat yang terbaik. Karena bukan penghargaan ataupun pengakuan dari manusia yang kita harapkan, melainkan keridhaan dan balasan kasih sayang Allah Azza wa Jalla yang kita nantikan.
Sahabat, sering kita menyesal karena telah berbuat baik atau menolong orang lain yang ternyata tidak pandai berterima kasih. Orang yang tidak tahu diuntung, sudah dibantu malah menyusahkan. Namun sadarkah kita, bahwa sesungguhnya setiap perbuatan akan kembali pada pelakunya.
Sahabat, ingatlah! Seseorang yang berbuat baik, Insya Allah akan senantiasa mendapatkan kebaikan. Orang akan mulia, karena perkataan dan perbuatannya yang mulia. Dan orang bisa menjadi hina, manakala kata-kata hina dan sikap menghinakan yang ditampakkannya.
Istiqamah untuk senantiasa berbuat baik harus dilandasi keinginan kuat. Keinginan yang menjadi sumber energi dan memberikan daya dorong yang dasyat dalam upaya mewujudkannya kebaikan. Berbekal dari keinginan itulah, seseorang akan bersungguh-sungguh dalam setiap perjuangan yang dihadapinya.
Sahabat, tengok sikap istiqamah dalam kebaikan yang dicontohkan Rasulullah saw. Begitu berat permasalahan yang dihadapi, namun keistiqamahan Beliau mampu menggulirkan revolusi yang merubah sendi-sendi kehidupan masyarakat jahiliyyah menuju masyarakat madani yang menjadi pusat peradaban dunia. Tengok juga keistiqamahan para sahabat Rasul, seperti Abu Bakar as-Shiddiq, Umar ibn Khatthab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Mush’ab bin Umair dan sahabat-sahabat lainnya. Lihat pula keistiqamahan pakar-pakar ilmu pengetahuan dalam menemukan suatu invensi yang bermanfaat untuk banyak orang.
Tulisan sederhana ini merupakan refleksi keprihatinan hati karena menurunnya produktifitas saya dalam kebaikan, yang salah satunya diwujudkan dengan menulis. Semoga ini bisa menjadi cambuk, yang mendorong kita semua untuk lebih produktif dan mampu berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi. Dan semoga Allah Al-Matiin yang Maha Kokoh, senantiasa menjadikan hati kita kokoh dan condong kepada kebaikan. Amin...
Aku melangkah menelusuri jejak-jejak yang setengah hilang
Dalam dunia gelap nan pekat, kutemukan jejak itu bercabang
Bimbang…
Sementara waktu kian dekat, siap menikamku di hadapan
Aku putuskan untuk berlari menerobos gelap
Berlari dan terus saja berlari,
Berlari hingga tertatih-tatih langkahku ini
Semakin penat dan semakin cepat jantung berdetak
Tetapi tetap saja aku harus berlari memaksa
Karena waktu tak lagi banyak tersisa
Saat dimana kusadari bahwa waktu adalah amanah dalam kehidupan
Saat dimana tiap hembusan nafas merupakan langkah menuju kematian
Kuhadapi kematian yang terbalut kain keikhlasan
Sekalipun belum siap, aku tegar menghadapinya
Aku akhiri sebuah perjalanan panjang dalam pelarian menuju terang,
Taubat.
Menilik sejarah, perhitungan tahun hijriah berawal dari peristiwa hijrah Rasulullah saw dari kota Mekah ke Madinah. Sebuah perjalanan yang sangat berat, menguji keteguhan dan keberanian. Kala itu, Rasulullah saw dan para sahabat harus melalui padang pasir tandus, mendaki gunung-gunung berbatu terjal, dengan diburu kekhawatiran yang disebabkan situasi politik dan keamanan yang sangat tidak bersahabat. Namun segala kesulitan yang dihadapi tak sedikitpun meredupkan semangat, karena perubahan memang harus diperjuangkan.
Peristiwa hijrah mengandung hikmah yang tak ternilai. Peristiwa tersebut merupakan momentum awal terbentuknya masyarakat Islam, sebuah masyarakat yang berpengaruh besar terhadap peradaban dunia. Masyarakat yang mampu meruntuhkan berhala-berhala kejahiliyahan dan menggantikannya dengan kepatuhan tak terhingga kepada Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla.
Hijrah sebenarnya merupakan salah satu prinsip dasar dinamika Islam, yang menuntun ummat untuk hidup dinamis sehingga mampu merespon setiap perubahan yang terjadi. Karena perubahan itu pasti! Maka kita harus proaktif beradaptasi. Jika tidak, kita yang akan berubah menjadi beban, dihinggapi penyakit ketuaan dan tak sanggup memberikan manfaat kebaikan. Oleh karenanya, mari manfaatkan momentum tahun baru Hijriah kali ini untuk bermuhasabah, belajar kembali tentang kejujuran hidup, membuka topeng-topeng kemunafikkan, serta memperjuangkan perubahan demi kehidupan yang lebih baik.
Pekan yang berat... Deadline silih berganti, BAB I belum final, harus pontang-panting cari referensi baru, belum lagi data penunjang yang harus dicari ke Bareskrim Mabes Polri. Sampai-sampai keluarga dirumah tak banyak disapa, sahabat terbaik banyak terabaikan.. Namun disela-sela waktu tersisa, satu halaman buku terbuka. Ada pesan Rasulullah saw yang sangat menarik untuk kita simak bersama. Pesan itu tentang menjaga amanah. Satu hal yang sering terlewatkan. Ini penting!!! Terutama untuk sahabat-sahabat yang tenggelam dalam kesibukan, entah sekedar ingin mengejar dunia atau hanya ditujukan untuk akhirat. Atau yang berlaku adil, mengejar keduanya...
Bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Empat perkara yang harus dimiliki oleh seseorang maka engkau tidak akan kehilangan dunia seisinya: menjaga amanah, jujur dalam berbicara, berbudi pekerti, dan senantiasa menjaga kesucian” (H.R. Ahmad/6365).
Dasyatnya pesan Rasulullah saw. Beliau menyampaikan perihal empat perkara yang harus senantiasa kita jaga supaya dunia dan seisinya tidak menjauh dari kita. Barangsiapa memiliki keempat perkara tersebut, Insya Allah ia telah menggenggam dunia berikut isinya.
“Enam perkara yang dapat menjamin kalian masuk surga: jujurlah jika berbicara, tepatilah jika berjanji, laksanakanlah (amanah) jika kalian dipercaya, peliharalah kealuanmy, jagalah pandanganmu, dan tahanlah tanganmu”. (H.R. Ahmad: V/323)
Amanah secara umum berarti bertanggungjawab terhadap apa yang dibawanya, menepati janji, melaksanakan perintah, menunaikan keadilan, memberikan hukum yang sesuai dan dapat menjalankan sesuatu yang telah disepakati.
Salah seorang sahabat saya dihadapkan pada masalah yang sulit ia pecahkan. Ini mengenai pilihan hidup yang punya implikasi luas di masa yang akan datang. Alhamdulillah pagi ini ketika shalat subuh saya mendengar beberapa kalam ilahi yang sungguh menyejukkan hati. Selepas itu ada sebuah hadist yang membuat saya terhenyak dan bersyukur, bahwa
“Sungguh menyenangkan orang mukmin itu! Segalanya serba baik, dan yang begitu itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika dia mendapat kesenangan dia bersyukur, dan jika dia mendapat kesengsaraan dia bersabar, sehingga apa yang dihadapinya selalu mendatangkan kebaikan baginya”.
(H.R. Muslim no.2092)
Pertama, ingatlah Allah sebagaimana firman-Nya,
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku”. (al-Baqarah: 152)
Ini merupakan salah satu kelebihan kaum muslimin dimana Allah Azza wa Jalla menjamin akan mengingat dan mengangkat derajat orang yang senantiasa ingat kepada-Nya. Sesungguhnya jika Allah telah mengingat hamba-Nya, maka Dia mengingat mereka di alam yang besar ini dengan karunia, kemuliaan, kasih sayang, dan kemurahan-Nya. Dengan bantuan-Nya, Insya Allah kesulitan itu akan terasa jauh lebih mudah.
Kedua, mohonlah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat, sebagaimana firman-Nya,
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. (al-Baqarah: 153)
"Allah tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (al-Baqarah: 286)
Di dalam kitab ath-Thabaqât, Ibn Sa’ad menceritakan penggalan kisah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:
Pada suatu kali, aku pernah datang dari Abu Musa al-Asy’ari dengan membawa harta shadaqah (zakat) sebesar 800.000 dirham. Umar menerimanya dan berkata,
“Apa gerangan yang engkau bawa?”
Aku menjawab, “Aku membawa 800.000 dirham dari Abu Musa al-Asy’ari.”
Umar balik bertanya, “Apakah engkau gembira?”
Aku menjawab lagi, “Tentu, aku amat gembira.”
Setelah diserahkan kepada Umar, beliau tidak dapat tidur semalaman. Lalu istrinya bertanya, “Mengapa engkau tidak bisa tidur semalaman?”
Umar menjawab, “Bagaimana aku bisa tidur, sementara telah datang kepadaku harta shadaqah (zakat) sebanyak itu? Sungguh, aku tidak dapat tidur sampai aku membagikannya kepada kaum Muslimin.”
(Ibn Sa’ad, ath-Thabaqât, jilid III/216).
Wallahu A’lam.
Menyambut pagi yang menakjubkan, berikut sepenggal kisah yang dapat direnungankan. Semoga dapat menjadikan kita, pribadi-pribadi yang lebih bermanfaat...
“Apakah ada diantara kalian yang berpuasa hari ini?”
Umar bin Khatthab menjawab, ”Wahai Rasulullah saw, aku belum berniat puasa, maka pagi ini aku tidak berpuasa”.
Kemudian Abu Bakar menjawab, ”Ya Rasulullah saw, semalam aku telah berniat puasa, maka hari ini aku pun berpuasa”.
”Apakah ada diantara kalian yang telah menjenguk orang sakit?”
”Wahai Rasulullah saw, kita baru saja selesai shalat subuh dan belum beranjak, bagaimana kita bisa menjenguk orang sakit?”, jawaban salah seorang jamaah.
”Ya Rasulullah saw, telah sampai berita kepadaku bahwa saudara Abdurrahman bin Auf sedang sakit, maka ku sempatkan diri berkunjung ke rumahnya sebelum menuju masjid”, jawab Abu Bakar.
”Apakah ada diantara kalian yang telah bersedekah hari ini?”
”Ya Rasulullah saw, tadi ketika aku hendak masuk ke dalam masjid, tiba-tiba ada peminta-minta menengadahkan tangannya, maka kuberikan kepadanya potongan roti yang kudapatkan dari tangan Abdurrahman”, jawaban Abu Bakar untuk kali ketiga.
Hidup harus bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Untuk itu setiap pribadi harus dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Itulah prinsip hidup yang saya pegang teguh untuk bisa survive dalam kehidupan yang menakjubkan. Mengapresiasi setiap sikap positif yang datang, tak terlalu peduli terhadap sikap negatif yang ada.
Namun dalam perjalanan hidup seringkali terlalu lemah dalam menghadapi tantangan, terlalu cepat untuk mengatakan tidak bisa terhadap suatu hal yang tidak disenangi, terlalu subyektif dalam memutuskan sesuatu, terlalu permisif terhadap kesalahan-kesalahan yang dibuat sendiri. Karenanya hidup tak selalu menyenangkan.
Tapi itulah hidup, kadang di atas, kadang terpaksa di bawah. Kadang terbang bebas, kadang harus mendarat sejenak untuk beristirahat. Kadang berlayar lepas, kadang tetap harus merapat untuk menyiapkan perbekalan. Yang terpenting adalah kita tetap bisa tersenyum meskipun bumi tempat kita berpijak terasa amat melelahkan. Karena senyum itu membahagiakan, menyenangkan, dan mampu mencairkan permusuhan.